Surat Al Hijr Arab Latin dan Terjemahan

Diposting pada

Surat Al Hijr ini terdiri atas 99 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, karena diturunkan di Mekah sebelum hijrah. Al Hijr adalah nama sebuah daerah pegunungan yang didiami zaman dahulu oleh kaum Tsamud terletak di pinggir jalan antara Madinah dan Syam (Syria).

Nama surat ini diambil dari nama daerah pegunungan itu, berhubung nasib penduduknya yaitu kaum Tsamud diceritakan pada ayat 80 sampai dengan 84, mereka telah dimusnahkan Allah s.w.t., karena mendustakan Nabi Shaleh a.s. dan berpaling dari ayat-ayat Allah. Dalam surat ini terdapat juga kisah-kisah kaum yang lain yang telah dibinasakan oleh Allah seperti kaum Luth a.s. dan kaum Syu’aib a.s. Dari ke semua kisah-kisah itu dapat diambil pelajaran bahwa orang-orang yang menentang ajaran rasul-rasul akan mengalami kehancuran.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الٓر تِلْكَ ءَايَٰتُ ٱلْكِتَٰبِ وَقُرْءَانٍ مُّبِينٍ

‘Alif-Lām-Rā Tilka ‘Āyātu Al-Kitābi Wa Qur’ānin Mubīnin
Alif, laam, raa. (Surat) ini adalah (sebagian dari) ayat-ayat Al-Kitab (yang sempurna), yaitu (ayat-ayat) Al Quran yang memberi penjelasan.

رُّبَمَا يَوَدُّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَوْ كَانُوا۟ مُسْلِمِينَ

Rubamā Yawaddu Al-Ladhīna Kafarū Law Kānū Muslimīna
Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.

ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا۟ وَيَتَمَتَّعُوا۟ وَيُلْهِهِمُ ٱلْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

Dharhum Ya’kulū Wa Yatamatta`ū Wa Yulhihimu Al-‘Amalu Fasawfa Ya`lamūna
Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).

وَمَآ أَهْلَكْنَا مِن قَرْيَةٍ إِلَّا وَلَهَا كِتَابٌ مَّعْلُومٌ

Wa Mā ‘Ahlaknā Min Qaryatin ‘Illā Wa Lahā Kitābun Ma`lūmun
Dan Kami tiada membinasakan sesuatu negeripun, melainkan ada baginya ketentuan masa yang telah ditetapkan.

مَّا تَسْبِقُ مِنْ أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَمَا يَسْتَـْٔخِرُونَ

Mā Tasbiqu Min ‘Ummatin ‘Ajalahā Wa Mā Yasta’khirūna
Tidak ada suatu umatpun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat mengundurkan(nya).

وَقَالُوا۟ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِى نُزِّلَ عَلَيْهِ ٱلذِّكْرُ إِنَّكَ لَمَجْنُونٌ

Wa Qālū Yā ‘Ayyuhā Al-Ladhī Nuzzila `Alayhi Adh-Dhikru ‘Innaka Lamajnūnun
Mereka berkata: “Hai orang yang diturunkan Al Quran kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila.

لَّوْ مَا تَأْتِينَا بِٱلْمَلَٰٓئِكَةِ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ

Law Mā Ta’tīnā Bil-Malā’ikati ‘In Kunta Mina Aş-Şādiqīna
Mengapa kamu tidak mendatangkan malaikat kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar?”

مَا نُنَزِّلُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةَ إِلَّا بِٱلْحَقِّ وَمَا كَانُوٓا۟ إِذًا مُّنظَرِينَ

Mā Nunazzilu Al-Malā’ikata ‘Illā Bil-Ĥaqqi Wa Mā Kānū ‘Idhāan Munžarīna
Kami tidak menurunkan malaikat melainkan dengan benar (untuk membawa azab) dan tiadalah mereka ketika itu diberi tangguh.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

‘Innā Naĥnu Nazzalnā Adh-Dhikra Wa ‘Innā Lahu Laĥāfižūna
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ فِى شِيَعِ ٱلْأَوَّلِينَ

Wa Laqad ‘Arsalnā Min Qablika Fī Shiya`i Al-‘Awwalīna
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (beberapa rasul) sebelum kamu kepada umat-umat yang terdahulu.

وَمَا يَأْتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا كَانُوا۟ بِهِۦ يَسْتَهْزِءُونَ

Wa Mā Ya’tīhim Min Rasūlin ‘Illā Kānū Bihi Yastahzi’ūna
Dan tidak datang seorang rasulpun kepada mereka, melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.

كَذَٰلِكَ نَسْلُكُهُۥ فِى قُلُوبِ ٱلْمُجْرِمِينَ

Kadhālika Naslukuhu Fī Qulūbi Al-Mujrimīna
Demikianlah, Kami mamasukkan (rasa ingkar dan memperolok-olokkan itu) kedalam hati orang-orang yang berdosa (orang-orang kafir),

لَا يُؤْمِنُونَ بِهِۦ وَقَدْ خَلَتْ سُنَّةُ ٱلْأَوَّلِينَ

Lā Yu’uminūna Bihi Wa Qad Khalat Sunnatu Al-‘Awwalīna
mereka tidak beriman kepadanya (Al Quran) dan sesungguhnya telah berlalu sunnatullah terhadap orang-orang dahulu.

وَلَوْ فَتَحْنَا عَلَيْهِم بَابًا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ فَظَلُّوا۟ فِيهِ يَعْرُجُونَ

Wa Law Fataĥnā `Alayhim Bābāan Mina As-Samā’i Fažallū Fīhi Ya`rujūna
Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya,

لَقَالُوٓا۟ إِنَّمَا سُكِّرَتْ أَبْصَٰرُنَا بَلْ نَحْنُ قَوْمٌ مَّسْحُورُونَ

Laqālū ‘Innamā Sukkirat ‘Abşārunā Bal Naĥnu Qawmun Masĥūrūna
tentulah mereka berkata: “Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang orang yang kena sihir”.

وَلَقَدْ جَعَلْنَا فِى ٱلسَّمَآءِ بُرُوجًا وَزَيَّنَّٰهَا لِلنَّٰظِرِينَ

Wa Laqad Ja`alnā Fī As-Samā’i Burūjāan Wa Zayyannāhā Lilnnāžirīna
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang(nya),

وَحَفِظْنَٰهَا مِن كُلِّ شَيْطَٰنٍ رَّجِيمٍ

Wa Ĥafižnāhā Min Kulli Shayţānin Rajīmin
dan Kami menjaganya dari tiap-tiap syaitan yang terkutuk,

إِلَّا مَنِ ٱسْتَرَقَ ٱلسَّمْعَ فَأَتْبَعَهُۥ شِهَابٌ مُّبِينٌ

‘Illā Mani Astaraqa As-Sam`a Fa’atba`ahu Shihābun Mubīnun
kecuali syaitan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang.

وَٱلْأَرْضَ مَدَدْنَٰهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَٰسِىَ وَأَنۢبَتْنَا فِيهَا مِن كُلِّ شَىْءٍ مَّوْزُونٍ

Wa Al-‘Arđa Madadnāhā Wa ‘Alqaynā Fīhā Rawāsiya Wa ‘Anbatnā Fīhā Min Kulli Shay’in Mawzūnin
Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.

وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَٰيِشَ وَمَن لَّسْتُمْ لَهُۥ بِرَٰزِقِينَ

Wa Ja`alnā Lakum Fīhā Ma`āyisha Wa Man Lastum Lahu Birāziqīna
Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya.

وَإِن مِّن شَىْءٍ إِلَّا عِندَنَا خَزَآئِنُهُۥ وَمَا نُنَزِّلُهُۥٓ إِلَّا بِقَدَرٍ مَّعْلُومٍ

Wa ‘In Min Shay’in ‘Illā `Indanā Khazā’inuhu Wa Mā Nunazziluhu ‘Illā Biqadarin Ma`lūmin
Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.

وَأَرْسَلْنَا ٱلرِّيَٰحَ لَوَٰقِحَ فَأَنزَلْنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَأَسْقَيْنَٰكُمُوهُ وَمَآ أَنتُمْ لَهُۥ بِخَٰزِنِينَ

Wa ‘Arsalnā Ar-Riyāĥa Lawāqiĥa Fa’anzalnā Mina As-Samā’i Mā’an Fa’asqaynākumūhu Wa Mā ‘Antum Lahu Bikhāzinīna
Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.

وَإِنَّا لَنَحْنُ نُحْىِۦ وَنُمِيتُ وَنَحْنُ ٱلْوَٰرِثُونَ

Wa ‘Innā Lanaĥnu Nuĥyī Wa Numītu Wa Naĥnu Al-Wārithūna
Dan sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidupkan dan mematikan dan Kami (pulalah) yang mewarisi.

وَلَقَدْ عَلِمْنَا ٱلْمُسْتَقْدِمِينَ مِنكُمْ وَلَقَدْ عَلِمْنَا ٱلْمُسْتَـْٔخِرِينَ

Wa Laqad `Alimnā Al-Mustaqdimīna Minkum Wa Laqad `Alimnā Al-Musta’khirīna
Dan sesungguhnya Kami telah mengetahui orang-orang yang terdahulu daripada-mu dan sesungguhnya Kami mengetahui pula orang-orang yang terkemudian (daripadamu).

وَإِنَّ رَبَّكَ هُوَ يَحْشُرُهُمْ إِنَّهُۥ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

Wa ‘Inna Rabbaka Huwa Yaĥshuruhum ‘Innahu Ĥakīmun `Alīmun
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang akan menghimpunkan mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ مِن صَلْصَٰلٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ

Wa Laqad Khalaqnā Al-‘Insāna Min Şalşālin Min Ĥama’iin Masnūnin
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.

وَٱلْجَآنَّ خَلَقْنَٰهُ مِن قَبْلُ مِن نَّارِ ٱلسَّمُومِ

Wa Al-Jānna Khalaqnāhu Min Qablu Min Nāri As-Samūmi
Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى خَٰلِقٌۢ بَشَرًا مِّن صَلْصَٰلٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ

Wa ‘Idh Qāla Rabbuka Lilmalā’ikati ‘Innī Khāliqun Basharāan Min Şalşālin Min Ĥama’iin Masnūnin
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk,

فَإِذَا سَوَّيْتُهُۥ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِى فَقَعُوا۟ لَهُۥ سَٰجِدِينَ

Fa’idhā Sawwaytuhu Wa Nafakhtu Fīhi Min Rūĥī Faqa`ū Lahu Sājidīna
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.

فَسَجَدَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ

Fasajada Al-Malā’ikatu Kulluhum ‘Ajma`ūna
Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama,

إِلَّآ إِبْلِيسَ أَبَىٰٓ أَن يَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ

‘Illā ‘Iblīsa ‘Abá ‘An Yakūna Ma`a As-Sājidīna
kecuali iblis. Ia enggan ikut besama-sama (malaikat) yang sujud itu.

قَالَ يَٰٓإِبْلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ

Qāla Yā ‘Iblīsu Mā Laka ‘Allā Takūna Ma`a As-Sājidīna
Allah berfirman: “Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?”

قَالَ لَمْ أَكُن لِّأَسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُۥ مِن صَلْصَٰلٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ

Qāla Lam ‘Akun Li’sjuda Libasharin Khalaqtahu Min Şalşālin Min Ĥama’iin Masnūnin
Berkata Iblis: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”

قَالَ فَٱخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ

Qāla Fākhruj Minhā Fa’innaka Rajīmun
Allah berfirman: “Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk,

وَإِنَّ عَلَيْكَ ٱللَّعْنَةَ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلدِّينِ

Wa ‘Inna `Alayka Al-La`nata ‘Ilá Yawmi Ad-Dīni
dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat”.

قَالَ رَبِّ فَأَنظِرْنِىٓ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Qāla Rabbi Fa’anžirnī ‘Ilá Yawmi Yub`athūna
Berkata iblis: “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan,

قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ ٱلْمُنظَرِينَ

Qāla Fa’innaka Mina Al-Munžarīna
Allah berfirman: “(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh,

إِلَىٰ يَوْمِ ٱلْوَقْتِ ٱلْمَعْلُومِ

‘Ilá Yawmi Al-Waqti Al-Ma`lūmi
sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan,

قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغْوَيْتَنِى لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

Qāla Rabbi Bimā ‘Aghwaytanī La’uzayyinanna Lahum Fī Al-‘Arđi Wa La’ughwiyannahum ‘Ajma`īna
Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,

إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ ٱلْمُخْلَصِينَ

‘Illā `Ibādaka Minhumu Al-Mukhlaşīna
kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”.

قَالَ هَٰذَا صِرَٰطٌ عَلَىَّ مُسْتَقِيمٌ

Qāla Hādhā Şirāţun `Alayya Mustaqīmun
Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya).

إِنَّ عِبَادِى لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَٰنٌ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلْغَاوِينَ

‘Inna `Ibādī Laysa Laka `Alayhim Sulţānun ‘Illā Mani Attaba`aka Mina Al-Ghāwīna
Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.

وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ أَجْمَعِينَ

Wa ‘Inna Jahannama Lamaw`iduhum ‘Ajma`īna
Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut syaitan) semuanya.

لَهَا سَبْعَةُ أَبْوَٰبٍ لِّكُلِّ بَابٍ مِّنْهُمْ جُزْءٌ مَّقْسُومٌ

Lahā Sab`atu ‘Abwābin Likulli Bābin Minhum Juz’un Maqsūmun
Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka.

إِنَّ ٱلْمُتَّقِينَ فِى جَنَّٰتٍ وَعُيُونٍ

‘Inna Al-Muttaqīna Fī Jannātin Wa `Uyūnin
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir).

ٱدْخُلُوهَا بِسَلَٰمٍ ءَامِنِينَ

Adkhulūhā Bisalāmin ‘Āminīna
(Dikatakan kepada mereka): “Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman”

وَنَزَعْنَا مَا فِى صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ إِخْوَٰنًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُّتَقَٰبِلِينَ

Wa Naza`nā Mā Fī Şudūrihim Min Ghillin ‘Ikhwānāan `Alá Sururin Mutaqābilīna
Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.

لَا يَمَسُّهُمْ فِيهَا نَصَبٌ وَمَا هُم مِّنْهَا بِمُخْرَجِينَ

Lā Yamassuhum Fīhā Naşabun Wa Mā Hum Minhā Bimukhrajīna
Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya.

نَبِّئْ عِبَادِىٓ أَنِّىٓ أَنَا ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

Nabbi’ `Ibādī ‘Annī ‘Anā Al-Ghafūru Ar-Raĥīmu
Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,

وَأَنَّ عَذَابِى هُوَ ٱلْعَذَابُ ٱلْأَلِيمُ

Wa ‘Anna `Adhābī Huwa Al-`Adhābu Al-‘Alīmu
dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.

وَنَبِّئْهُمْ عَن ضَيْفِ إِبْرَٰهِيمَ

Wa Nabbi’hum `An Đayfi ‘Ibrāhīma
Dan kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim.

إِذْ دَخَلُوا۟ عَلَيْهِ فَقَالُوا۟ سَلَٰمًا قَالَ إِنَّا مِنكُمْ وَجِلُونَ

‘Idh Dakhalū `Alayhi Faqālū Salāmāan Qāla ‘Innā Minkum Wajilūna
Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan: “Salaam”. Berkata Ibrahim: “Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu”.

قَالُوا۟ لَا تَوْجَلْ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَٰمٍ عَلِيمٍ

Qālū Lā Tawjal ‘Innā Nubashiruka Bighulāmin `Alīmin
Mereka berkata: “Janganlah kamu merasa takut, sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang alim”.

قَالَ أَبَشَّرْتُمُونِى عَلَىٰٓ أَن مَّسَّنِىَ ٱلْكِبَرُ فَبِمَ تُبَشِّرُونَ

Qāla ‘Abashartumūnī `Alá ‘An Massaniya Al-Kibaru Fabima Tubashirūna
Berkata Ibrahim: “Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini?”

قَالُوا۟ بَشَّرْنَٰكَ بِٱلْحَقِّ فَلَا تَكُن مِّنَ ٱلْقَٰنِطِينَ

Qālū Basharnāka Bil-Ĥaqqi Falā Takun Mina Al-Qāniţīna
Mereka menjawab: “Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa”.

قَالَ وَمَن يَقْنَطُ مِن رَّحْمَةِ رَبِّهِۦٓ إِلَّا ٱلضَّآلُّونَ

Qāla Wa Man Yaqnaţu Min Raĥmati Rabbihi ‘Illā Ađ-Đāllūna
Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat”.

قَالَ فَمَا خَطْبُكُمْ أَيُّهَا ٱلْمُرْسَلُونَ

Qāla Famā Khaţbukum ‘Ayyuhā Al-Mursalūna
Berkata (pula) Ibrahim: “Apakah urusanmu yang penting (selain itu), hai para utusan?”

قَالُوٓا۟ إِنَّآ أُرْسِلْنَآ إِلَىٰ قَوْمٍ مُّجْرِمِينَ

Qālū ‘Innā ‘Ursilnā ‘Ilá Qawmin Mujrimīna
Mereka menjawab: “Kami sesungguhnya diutus kepada kaum yang berdosa,

إِلَّآ ءَالَ لُوطٍ إِنَّا لَمُنَجُّوهُمْ أَجْمَعِينَ

‘Illā ‘Āla Lūţin ‘Innā Lamunajjūhum ‘Ajma`īna
kecuali Luth beserta pengikut-pengikutnya. Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan mereka semuanya,

إِلَّا ٱمْرَأَتَهُۥ قَدَّرْنَآ إِنَّهَا لَمِنَ ٱلْغَٰبِرِينَ

‘Illā Amra’atahu Qaddarnā ‘Innahā Lamina Al-Ghābirīna
kecuali istrinya. Kami telah menentukan, bahwa sesungguhnya ia itu termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya)”.

فَلَمَّا جَآءَ ءَالَ لُوطٍ ٱلْمُرْسَلُونَ

Falammā Jā’a ‘Āla Lūţin Al-Mursalūna
Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut pengikutnya,

قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ مُّنكَرُونَ

Qāla ‘Innakum Qawmun Munkarūna
ia berkata: “Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal”.

قَالُوا۟ بَلْ جِئْنَٰكَ بِمَا كَانُوا۟ فِيهِ يَمْتَرُونَ

Qālū Bal Ji’nāka Bimā Kānū Fīhi Yamtarūna
Para utusan menjawab: “Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan.

وَأَتَيْنَٰكَ بِٱلْحَقِّ وَإِنَّا لَصَٰدِقُونَ

Wa ‘Ataynāka Bil-Ĥaqqi Wa ‘Innā Laşādiqūna
Dan kami datang kepadamu membawa kebenaran dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar.

فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِّنَ ٱلَّيْلِ وَٱتَّبِعْ أَدْبَٰرَهُمْ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنكُمْ أَحَدٌ وَٱمْضُوا۟ حَيْثُ تُؤْمَرُونَ

Fa’asri Bi’ahlika Biqiţ`in Mina Al-Layli Wa Attabi` ‘Adbārahum Wa Lā Yaltafit Minkum ‘Aĥadun Wa Amđū Ĥaythu Tu’umarūna
Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutlah mereka dari belakang dan janganlah seorangpun di antara kamu menoleh kebelakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang di perintahkan kepadamu”.

وَقَضَيْنَآ إِلَيْهِ ذَٰلِكَ ٱلْأَمْرَ أَنَّ دَابِرَ هَٰٓؤُلَآءِ مَقْطُوعٌ مُّصْبِحِينَ

Wa Qađaynā ‘Ilayhi Dhālika Al-‘Amra ‘Anna Dābira Hā’uulā’ Maqţū`un Muşbiĥīna
Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh.

وَجَآءَ أَهْلُ ٱلْمَدِينَةِ يَسْتَبْشِرُونَ

Wa Jā’a ‘Ahlu Al-Madīnati Yastabshirūna
Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu.

قَالَ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ضَيْفِى فَلَا تَفْضَحُونِ

Qāla ‘Inna Hā’uulā’ Đayfī Falā Tafđaĥūni
Luth berkata: “Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku),

وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُخْزُونِ

Wa Attaqū Allāha Wa Lā Tukhzūni
dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina”.

قَالُوٓا۟ أَوَلَمْ نَنْهَكَ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ

Qālū ‘Awalam Nanhaka `Ani Al-`Ālamīna
Mereka berkata: “Dan bukankah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?”

قَالَ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِىٓ إِن كُنتُمْ فَٰعِلِينَ

Qāla Hā’uulā’ Banātī ‘In Kuntum Fā`ilīna
Luth berkata: “Inilah puteri-puteriku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)”.

لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِى سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ

La`amruka ‘Innahum Lafī Sakratihim Ya`mahūna
(Allah berfirman): “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)”.

فَأَخَذَتْهُمُ ٱلصَّيْحَةُ مُشْرِقِينَ

Fa’akhadhat/humu Aş-Şayĥatu Mushriqīna
Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit.

فَجَعَلْنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ

Faja`alnā `Āliyahā Sāfilahā Wa ‘Amţarnā `Alayhim Ĥijāratan Min Sijjīlin
Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras.

إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّلْمُتَوَسِّمِينَ

‘Inna Fī Dhālika La’āyātin Lilmutawassimīna
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda.

وَإِنَّهَا لَبِسَبِيلٍ مُّقِيمٍ

Wa ‘Innahā Labisabīlin Muqīmin
Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia).

إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَةً لِّلْمُؤْمِنِينَ

‘Inna Fī Dhālika La’āyatan Lilmu’uminīna
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.

وَإِن كَانَ أَصْحَٰبُ ٱلْأَيْكَةِ لَظَٰلِمِينَ

Wa ‘In Kāna ‘Aşĥābu Al-‘Aykati Lažālimīna
Dan sesungguhnya adalah penduduk Aikah itu benar-benar kaum yang zalim,

فَٱنتَقَمْنَا مِنْهُمْ وَإِنَّهُمَا لَبِإِمَامٍ مُّبِينٍ

Fāntaqamnā Minhum Wa ‘Innahumā Labi’imāmin Mubīnin
maka Kami membinasakan mereka. Dan sesungguhnya kedua kota itu benar-benar terletak di jalan umum yang terang.

وَلَقَدْ كَذَّبَ أَصْحَٰبُ ٱلْحِجْرِ ٱلْمُرْسَلِينَ

Wa Laqad Kadhaba ‘Aşĥābu Al-Ĥijri Al-Mursalīna
Dan sesungguhnya penduduk-penduduk kota Al Hijr telah mendustakan rasul-rasul,

وَءَاتَيْنَٰهُمْ ءَايَٰتِنَا فَكَانُوا۟ عَنْهَا مُعْرِضِينَ

Wa ‘Ātaynāhum ‘Āyātinā Fakānū `Anhā Mu`riđīna
dan Kami telah mendatangkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami, tetapi mereka selalu berpaling daripadanya,

وَكَانُوا۟ يَنْحِتُونَ مِنَ ٱلْجِبَالِ بُيُوتًا ءَامِنِينَ

Wa Kānū Yanĥitūna Mina Al-Jibāli Buyūtāan ‘Āminīna
dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman.

فَأَخَذَتْهُمُ ٱلصَّيْحَةُ مُصْبِحِينَ

Fa’akhadhat/humu Aş-Şayĥatu Muşbiĥīna
Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur di waktu pagi,

فَمَآ أَغْنَىٰ عَنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

Famā ‘Aghná `Anhum Mā Kānū Yaksibūna
maka tak dapat menolong mereka, apa yang telah mereka usahakan.

وَمَا خَلَقْنَا ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَآ إِلَّا بِٱلْحَقِّ وَإِنَّ ٱلسَّاعَةَ لَءَاتِيَةٌ فَٱصْفَحِ ٱلصَّفْحَ ٱلْجَمِيلَ

Wa Mā Khalaqnā As-Samāwāti Wa Al-‘Arđa Wa Mā Baynahumā ‘Illā Bil-Ĥaqqi Wa ‘Inna As-Sā`ata La’ātiyatun Fāşfaĥi Aş-Şafĥa Al-Jamīla
Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ ٱلْخَلَّٰقُ ٱلْعَلِيمُ

‘Inna Rabbaka Huwa Al-Khallāqu Al-`Alīmu
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَٰكَ سَبْعًا مِّنَ ٱلْمَثَانِى وَٱلْقُرْءَانَ ٱلْعَظِيمَ

Wa Laqad ‘Ātaynāka Sab`āan Mina Al-Mathānī Wa Al-Qur’āna Al-`Ažīma
Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung.

لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِۦٓ أَزْوَٰجًا مِّنْهُمْ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَٱخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ

Lā Tamuddanna `Aynayka ‘Ilá Mā Matta`nā Bihi ‘Azwājāan Minhum Wa Lā Taĥzan `Alayhim Wa Akhfiđ Janāĥaka Lilmu’uminīna
Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.

وَقُلْ إِنِّىٓ أَنَا ٱلنَّذِيرُ ٱلْمُبِينُ

Wa Qul ‘Innī ‘Anā An-Nadhīru Al-Mubīnu
Dan katakanlah: “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan”.

كَمَآ أَنزَلْنَا عَلَى ٱلْمُقْتَسِمِينَ

Kamā ‘Anzalnā `Alá Al-Muqtasimīna
Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah),

ٱلَّذِينَ جَعَلُوا۟ ٱلْقُرْءَانَ عِضِينَ

Al-Ladhīna Ja`alū Al-Qur’āna `Iđīna
(yaitu) orang-orang yang telah menjadikan Al Quran itu terbagi-bagi.

فَوَرَبِّكَ لَنَسْـَٔلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

Fawarabbika Lanas’alannahum ‘Ajma`īna
Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua,

عَمَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

`Ammā Kānū Ya`malūna
tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.

فَٱصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْمُشْرِكِينَ

Fāşda` Bimā Tu’umaru Wa ‘A`riđ `Ani Al-Mushrikīna
Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.

إِنَّا كَفَيْنَٰكَ ٱلْمُسْتَهْزِءِينَ

‘Innā Kafaynāka Al-Mustahzi’īna
Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu),

ٱلَّذِينَ يَجْعَلُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

Al-Ladhīna Yaj`alūna Ma`a Allāhi ‘Ilahāan ‘Ākhara Fasawfa Ya`lamūna
(Yaitu) orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya).

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ

Wa Laqad Na`lamu ‘Annaka Yađīqu Şadruka Bimā Yaqūlūna
Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan,

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ ٱلسَّٰجِدِينَ

Fasabbiĥ Biĥamdi Rabbika Wa Kun Mina As-Sājidīna
maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat),

وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ

Wa A`bud Rabbaka Ĥattá Ya’tiyaka Al-Yaqīnu
dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).

Video Surah Al Hijr

 

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *